Dari semua ospek yang udah aku jalani sampai sekarang, nggak ada yang benar benar membebani pikiran. Apa karena udah biasa dimarahin ya? wkwkwk
masuk lewat telinga kanan, keluar lewat telinga kiri.
Tapi, justru ada hal yang lebih membebani pikiran. Dia.
Dia itu, teman masa kecil, I've known him for years. dari sebelum masuk tk kayaknya. dia, adik perempuannya, aku, dan kakakku. Kemana-mana kami bareng. Sepedaan bareng, main bareng, mutermuter bareng. Maklum, orang tua kami memang bersahabat karib. Di dalam kamus kami, kami bukanlah teman. Melainkan saudara. Saudara yang justru lebih dekat daripada saudara asliku sendiri.
Entah ini suatu keberuntungan atau tidak, aku dan dia memiliki umur yang sama. Kami menjalani kehidupan yang sama. Perasaan senang saat masuk tk, rasa deg deg an saat masuk sd, menjalani kedewasaan waktu smp, semuanya. dalam waktu yang sama.
Kalau ada yang bertanya, "itu siapa fer?" aku akan menjawab, "saudara".
Begitupun sebaliknya.
Keterkaitan kami sebagai saudara pun, sangaat dekat. Keluarga kami sering saling mengundang untuk makan bersama, jalan-jalan bersama, kami pun bahkan mengenal keluarga asli kami masing-masing dengan sangat baik.
Aku saudaranya, dia saudaraku. Aku menyayanginya seperti saudaraku sendiri.
Tapi entah sejak kapan, lama-lama situasi itu mulai berubah. Entah karena aku dan dia yang sudah mulai tumbuh dewasa dan mengerti posisi kami yang sebenarnya bukanlah ikatan darah, atau karena waktu yang sudah terlalu banyak kami habiskan bersama, atau rasa penasaran kami dengan apa sebenernya yang dimaksud dengan kata "sayang". Sampai sekarang pun, aku juga tidak bergitu mengerti.
Seiring waktu berjalan, aku merasa dia semakin berbeda. Badannya yang kian menjulang, melebihi tinggi badanku. Suara beratnya yang menggantikan suara kecilnya. Bahkan obrolan teman teman perempuanku tentang dirinya. Sejak kapan dia berubah menjadi seorang "laki-laki"?
Kesadaranku bahwa kami telah tumbuh menjadi seorang remaja (mungkin terdengar cheesy, tapi aku tak menemukan kata-kata yang lebih pantas) membuat kami merasa aneh. Apapun yang kami lakukan berdua terasa "awkward". Ada hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh anak perempuan dengan anak laki-laki sedekat apapun mereka, bukan?
Akhirnya kami pun, (tanpa aku sadari) semakin menjauh. Zona pertemanan kami pun berbeda. Aku menjalani kehidupanku sendiri, begitu pula dia.
Sampai dia menyatakan perasaannya padaku, aku hanya diam. Tidak tau harus berbuat apa. Orang-orang di sekitarku berkata aku mulai menjauh. Sikap yang aku sesali sampai sekarang. Tapi mau bagaimana lagi? aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa
Sampai sekarang pun, aku masih merasa seperti itu. Dinding antara dia, dan aku.
Aku masih tidak tahu bagaimana menerjemahkan perasaanku sendiri. Aku pun memiliki orang yang kusayangi, kamu. Tapi rasanya, dia, dan kamu memiliki ruangan yang berbeda. Rasa sayangku ke dia, dan rasa cintaku ke kamu.
Dan akhirnya pun dia pergi, ke tempat yang sangaaat jauh. Entah kapan bisa bertemu. 1 tahun lagi? 2 tahun lagi? atau bahkan 4 tahun lagi?
Ingin rasanya memperbaiki watu yang telah hilang. Meluruskan miskomunikasi yang ada.
Menghancurkan dinding antara aku dan dia, mengumpulkan keberanian dan berkata, "halo, gimana kabarmu sekarang?"
Entah kapan keberanian itu akan datang.
a little truth
Minggu, 16 September 2012
Diposting oleh
While You Are Away..
di
07.15
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Bagikan ke X
Berbagi ke Facebook
Label:
unspoken
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar